Harga Pangan: Kenapa Minyak Goreng dan Telur Mendadak Mahal?

Gejolak harga pangan kembali menjadi isu yang meresahkan masyarakat menjelang akhir tahun ini. Kenaikan drastis pada komoditas utama seperti minyak goreng dan telur memicu pertanyaan besar: kenapa mendadak mahal? Fluktuasi ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi masalah di tingkat hulu, logistik, dan permintaan pasar. Kenaikan harga kebutuhan pokok ini tentu berdampak langsung pada daya beli rumah tangga dan memerlukan intervensi cepat dari pemerintah.

Kenaikan minyak goreng dan telur dapat diurai dari dua sisi penyebab yang berbeda. Untuk minyak goreng, pemicu utama adalah lonjakan harga CPO (Crude Palm Oil) global. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 1 Desember 2025, harga CPO dunia mencapai titik tertinggi dalam dua tahun terakhir akibat berkurangnya pasokan dari negara produsen utama dan peningkatan permintaan biodiesel global. Kondisi ini membuat disparitas antara harga CPO untuk pasar domestik dan ekspor melebar, sehingga stok domestik di tingkat produsen berkurang, memicu kenaikan harga pangan.

Sementara itu, lonjakan harga telur utamanya disebabkan oleh masalah di sektor peternakan. Sejak bulan Oktober 2025, peternak ayam petelur menghadapi kenaikan signifikan pada harga pakan, terutama bungkil kedelai impor yang harganya naik 15%. Selain itu, beberapa daerah produsen telur seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami outbreak penyakit unggas minor pada bulan November, yang mengakibatkan penurunan produksi telur hingga 10% dari rata-rata normal. Kombinasi biaya produksi yang tinggi dan pasokan yang menurun ini menjawab pertanyaan kenapa mendadak mahal.

Merespons tekanan pada harga kebutuhan pokok ini, pemerintah melalui Satuan Tugas Pangan (Satgas Pangan) yang dipimpin oleh perwakilan Kepolisian dan Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan langkah intervensi. Pada 5 Desember 2025, Kementan mengumumkan alokasi subsidi pakan khusus untuk peternak telur sebesar Rp 500 per kilogram pakan selama tiga bulan ke depan. Harapannya, kebijakan ini dapat menekan biaya produksi dan menstabilkan harga di tingkat peternak.

Selain itu, untuk menanggulangi kelangkaan minyak goreng dan telur, Kemendag berencana melakukan Operasi Pasar Serentak pada hari Jumat, 19 Desember 2025, di 100 titik pasar tradisional di seluruh Pulau Jawa. Operasi pasar ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Langkah ini penting untuk mencegah aksi penimbunan oleh distributor nakal yang memanfaatkan pertanyaan kenapa mendadak mahal untuk mencari keuntungan.

Dengan langkah-langkah intervensi dan pengawasan yang ketat dari petugas aparat, diharapkan harga pangan utama ini dapat segera kembali stabil. Pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok adalah prioritas utama pemerintah menjelang perayaan akhir tahun.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa